Wednesday, December 10, 2014

Bertabah dan bersabar dalam berusaha


✨ Nabi Musa a.s. pernah berdepan dengan banyak cabaran setinggi gunung yang baginda a.s. sendiri tidak nampak jalan keluar. 

Tetapi Allah s.w.t. pasti tidak meninggalkannya keseorangan. Dan memberikan petunjuk jalan penyelesaian, dengan syarat ada sedikit lonjakan usaha dengan tangan sendiri. 

Nabi Musa tidak mampu membelah laut, tapi yang perlu dilakukan adalah usaha memukul laut dengan tongkatnya. Nabi Musa tidak mampu melawan ular-ular ahli sihir yang banyak, tapi dengan usaha membaling tongkatnya, Allah berikan kemenangan. 

Kadangkala kita rasa putus asa dan banyak sangat cabaran, banyak sangat perkara yang perlu diselesaikan. Tapi yang Allah mahukan dari kita cumalah sedikit lonjakan usaha. Kemudian dengan keyakinan dan tawakkal Allah akan bantu, mudahkan dan pasti akan tunjukkan jalan keluar. ✨

"fa iza faraghta fansob, wa ila rabbika farghob"

Wednesday, November 19, 2014

Ada apa dengan kelkatu

Berinteraksi dgn kelkatu..


Kelkatu ada disebut di dlm surah Al-Qari'ah.


Surah tersebut menggambarkan keadaan manusia seperti kelkatu yg berkeliaran, saling melanggar antara satu sama lain tanpa haluan, dlm ketakutan, keseorangan, disebabkan berlakunya hari yang menggemparkan.


Hari itu di mana buku amalan akan diserahkan kepada kita, segala amalan dibentangkan, kemudian ditimbang. Setelah itu diadili. 


Kalau timbangan amalan baik berat, perlu diadili oleh Allah?


Ya, kerana hanya Allah yang mengetahui adakah amalan baik tersebut keranaNya atau kerana dunia atau manusia lain.


Jadi untuk menjadikan amalan baik kita diterima Allah, pastikan ia.. 

1) Niat kerana Allah semata

2) Selaras dengan sunnah Rasulullah / apa yang Rasulullah


Dari sahabat iLuvQuran.. Tadabbur Quran yang kita ingin ajar pada anak-anak kita. MashaAllah. 

Saturday, November 8, 2014

Curahan hati seorang da'ei

"Ustadz, dulu ana merasa semangat dalam dakwah. Tapi belakangan rasanya semakin hambar. Ukhuwah makin kering. Bahkan ana melihat ternyata ikhwah banyak pula yang aneh-aneh.” Begitu keluh kesah seorang mad’u kepada murabbinya di suatu malam.


Sang murabbi hanya terdiam, mencoba terus menggali semua kecamuk dalam diri mad’unya. “Lalu, apa yang ingin antum lakukan setelah merasakan semua itu?” sahut sang murabbi setelah sesaat termenung.


“Ana ingin berhenti saja, keluar dari tugas ini. Ana kecewa dengan perilaku beberapa ikhwah yang justru tidak islami. Juga dengan organisasi dakwah yang ana geluti, kaku dan sering mematikan potensi anggota-anggotanya. Bila begini terus, ana mendingan sendiri saja…” jawab mad’u itu.


Sang murabbi termenung kembali. Tidak tampak raut terkejut dari roman wajahnya. Sorot matanya tetap terlihat tenang, seakan jawaban itu memang sudah diketahuinya sejak awal.


“Akhi, bila suatu kali antum naik sebuah kapal mengarungi lautan luas. Kapal itu ternyata sudah amat bobrok. Layarnya banyak berlubang, kayunya banyak yang keropos bahkan kabinnya bau kotoran manusia. Lalu, apa yang akan antum lakukan untuk tetap sampai pada tujuan?” tanya sang murabbi dengan kiasan bermakna dalam. Sang mad’u terdiam berpikir. Tak kuasa hatinya mendapat umpan balik sedemikian tajam melalui kiasan yang amat tepat.


“Apakah antum memilih untuk terjun ke laut dan berenang sampai tujuan?” sang murabbi mencoba memberi opsi.


“Bila antum terjun ke laut, sesaat antum akan merasa senang. Bebas dari bau kotoran manusia, merasakan kesegaran air laut, atau bebas bermain dengan ikan lumba-lumba. Tapi itu hanya sesaat. Berapa kekuatan antum untuk berenang hingga tujuan? Bagaimana bila ikan hiu datang? Darimana antum mendapat makan dan minum? Bila malam datang, bagaimana antum mengatasi hawa dingin?” serentetan pertanyaan dihamparkan di hadapan sang mad’u.


Tak ayal, sang mad’u menangis tersedu. Tak kuasa rasa hatinya menahan kegundahan sedemikian. Kekecewaannya kadung memuncak, namun sang murabbi yang dihormatinya justru tidak memberi jalan keluar yang sesuai dengan keinginannya.


“Akhi, apakah antum masih merasa bahwa jalan dakwah adalah jalan yang paling utama menuju ridho Allah?” Pertanyaan menohok ini menghujam jiwa sang mad’u. Ia hanya mengangguk.


“Bagaimana bila temyata mobil yang antum kendarai dalam menempuh jalan itu ternyata mogok? Antum akan berjalan kaki meninggalkan mobil itu tergeletak di jalan, atau mencoba memperbaikinya?” tanya sang murabbi lagi.


Sang mad’u tetap terdiam dalam sesenggukan tangis perlahannya. Tiba-tiba ia mengangkat tangannya, “Cukup ustadz, cukup. Ana sadar. Maafkan ana. Ana akan tetap istiqamah. Ana berdakwah bukan untuk mendapat medali kehormatan. Atau agar setiap kata-kata ana diperhatikan…”


“Biarlah yang lain dengan urusan pribadi masing-masing. Ana akan tetap berjalan dalam dakwah ini. Dan hanya Allah saja yang akan membahagiakan ana kelak dengan janji-janji-Nya. Biarlah segala kepedihan yang ana rasakan jadi pelebur dosa-dosa ana”, sang mad’u berazzam di hadapan murabbi yang semakin dihormatinya.


Sang murabbi tersenyum. “Akhi, jama’ah ini adalah jama’ah manusia. Mereka adalah kumpulan insan yang punya banyak kelemahan. Tapi di balik kelemahan itu, masih amat banyak kebaikan yang mereka miliki. Mereka adalah pribadi-pribadi yang menyambut seruan Allah untuk berdakwah. Dengan begitu, mereka sedang berproses menjadi manusia terbaik pilihan Allah.”


“Bila ada satu dua kelemahan dan kesalahan mereka, janganlah hal itu mendominasi perasaan antum. Sebagaimana Allah ta’ala menghapus dosa manusia dengan amal baik mereka, hapuslah kesalahan mereka di mata antum dengan kebaikan-kebaikan mereka terhadap dakwah selama ini. Karena di mata Allah, belum tentu antum lebih baik dari mereka.”


“Futur, mundur, kecewa atau bahkan berpaling menjadi lawan bukanlah jalan yang masuk akal. Apabila setiap ketidak-sepakatan selalu disikapi dengan jalan itu, maka kapankah dakwah ini dapat berjalan dengan baik?” sambungnya panjang lebar.


“Kita bukan sekedar pengamat yang hanya bisa berkomentar. Atau hanya pandai menuding-nuding sebuah kesalahan. Kalau hanya itu, orang kafirpun bisa melakukannya. Tapi kita adalah da’i. Kita adalah khalifah. Kitalah yang diserahi amanat oleh Allah untuk membenahi masalah-masalah di muka bumi. Bukan hanya mengeksposnya, yang bisa jadi justru semakin memperuncing masalah.” “Jangan sampai, kita seperti menyiram bensin ke sebuah bara api. Bara yang tadinya kecil tak bernilai, bisa menjelma menjadi nyala api yang membakar apa saja. Termasuk kita sendiri!”


Sang mad’u termenung merenungi setiap kalimat murabbinya. Azzamnya memang kembali menguat. Namun ada satu hal tetap bergelayut dihatinya. “Tapi bagaimana ana bisa memperbaiki organisasi dakwah dengan kapasitas ana yang lemah ini?” sebuah pertanyaan konstruktif akhirnya muncul juga.


“Siapa bilang kapasitas antum lemah? Apakah Allah mewahyukan begitu kepada antum? Semua manusia punya kapasitas yang berbeda. Namun tidak ada yang bisa menilai, bahwa yang satu lebih baik dari yang lain!” sahut sang murabbi.


“Bekerjalah dengan ikhlas. Berilah taushiah dalam kebenaran, kesabaran dan kasih sayang kepada semua ikhwah yang terlibat dalam organisasi itu. Karena peringatan selalu berguna bagi orang beriman. Bila ada sebuah isyu atau gosip, tutuplah telinga antum dan bertaubatlah. Singkirkan segala ghil (dengki, benci, iri hati) antum terhadap saudara antum sendiri. Dengan itulah, Bilal yang mantan budak hina menemui kemuliaannya.”


Suasana dialog itu mulai mencair. Semakin lama, pembicaraan melebar dengan akrabnya. Tak terasa, kokok ayam jantan memecah suasana. Sang mad’u bergegas mengambil wudhu untuk qiyamullail malam itu. Sang murabbi sibuk membangunkan beberapa mad’unya yang lain dari asyik tidurnya.


Malam itu, sang mad’u menyadari kekhilafannya. Ia bertekad untuk tetap berputar bersama jama’ah dalam mengarungi jalan dakwah. Pencerahan diperolehnya. Demikian juga yang diharapkan dari Antum/antunna yang membaca tulisan ini.. Insya Allah kita tetap istiqamah di jalan dakwah ini.. Dalam samudera tarbiyah ini.


Forwarded message. Author unknown. 

Sunday, June 1, 2014

School Holiday Programmes in June 2014!


Bismillah

All praise to Allah for His help in allowing us to make these school holiday programs happen. 

Alhamdulillah we are having the successful I Luv Ash-Shams module in Bangi and Shah Alam and a new module,  I Luv Surah At-Toriq in our home center. 

Discipline in learning Quran - It's not always easy

It's not always easy to learn Quran, especially when we're beyond the age of twelve. Well, learning anything can be challenging. Who said it was easy learning to walk? Or the first few years when we were learning to read- no, it wasn't very easy, but those who persevered reap the benefits today. 

And yes it's also not easy to re learn the Quran, and especially memorize the Quran when you're already in your teens and beyond. So here's an ode to our persevering students. 

Sometimes you don't see the reward or point of going on.. You've been on the same page or same surah for the past weeks. 

And of course you don't see the invisible reward that Allah has prepared for those who recite the Quran in difficulty yet still persevere. 



Alhamdulillah, congratulations to our teenage Iqra' student who has been consistent in coming thrice a week, and has now finished her Iqra' 4. 

Alhamdulillah, congratulations to our specialist doctor who has finished revising juz 30, 29 and 28.. And has been strong to keep going on despite ustazah always asking her to repeat and perfect her memorization for juz 27.  

Alhamdulillah, congratulations to our coaching on the go professional reverts class, who are making great progress in reading the Quran, alhamdulillah. One has already started reading the Quran, and the other two are already on Iqra' 2 and 3. 

And alhamdulillah, congratulations to our professional executive student who has finished juz 30 and half of juz 1, yet has to keep persevering to perfect the half juz that she already has. 

Yes, it's not easy, but may Allah give us the strength that we need, with the noble intention of becoming ahlul Qur'an! Ameen. 

Sunday, April 6, 2014

Second interview session

Alhamdulillah with the good class enrolment that we currently have, and the requests from customers for a few new classes, we undertook the task of interviewing potentially new ustaz/ ustazah to join our Dream Team.



Pencarian Staff Baru Yang Osem

Untuk makluman semua ustaz/ah dan juga protaz/ah. iLuvQuran Tahfiz Center akan mengadakan interview untuk staff baru bagi pembukaan 5 kelas baru.

Kami mencari tenaga muda yang kreatif, berwibawa dan islamik dalam membawa aspirasi penghafazan Al-Quran sebagai suatu pengalaman yang osem, exciting dan menyeronokkan.

Sesi akan diadakan pada hari Sabtu (5 April 2014) malam pukul 8.30pm di iLuvQuran Tahfiz Center, Wangsa Melawati.

Jika berminat boleh emailkan resume ke register@iluvquran.com atau boleh hubungi Faiz Sahri di 0123896900.

Position Baru Yang Dibuka (Sepenuh Masa dan Separuh Masa):
1. Tenaga Pengajar Tahfiz - Dewasa dan Anak-anak
2. Tenaga Pengajar Juz 30
3. Tenaga Pengajar Quranic Playgroup
4. Admin Staff

"Memorize Quran, Life Will Never Be The Same"

iLuvQuran Tahfiz Center
www.iLuvQuran.com
www.facebook.com/iLuvQuran



We received 15 applications, and were able to interview 6 on Saturday 5 April 2014. InshaAllah in the coming two weeks we will be interviewing the remaining nine.

There were a few overseas graduates, a few from UIA, alhamdulillah, and one international applicant who had been teaching Quran since he was 13. MashaAllah.

We did learn a few things from the interview, and do have a few tips for future applicants, but it would only be fair to share the tips once all 15 have been interviewed :).

Bittaufiq wannajah. Thank you to all the applicants, we wish you all the best in living your dreams, and we pray that iLuvQuran will be blessed with the best team!

posted from Bloggeroid

Wednesday, February 26, 2014

March, April and May plans

Bismillahi rahmani rahim
Alhamdulillahi rabbil 'alamin wassolatu wassalamu 'ala rasuluhil mubeen

All praises to Allah, we are soon entering our third month of operation. Alhamdulillah too, all our classes for Q Babies, Quranic Seedlings and Junior Al-Hafiz are full. The Quranic Coaching classes still have some space, for adults and teenagers. 

(A mother and daughter working together during Q Babies playgroup class)

Our Dream Team is working very hard to ensure the current students are understand, memorize and apply the lessons they've learnt at their current levels. Memorization, particularly is one of the main focus areas as iLuvQuran is a tahfiz center, and we are currently looking at the memorization rate and progress for all our students on a daily basis. From the data, inshaAllah we identify areas for improvement.  

Apart from that, our current goals for these coming two months are:

1. Getting a new class up for Quranic Seedlings, pending an interview session to identify the best candidate to teach our young stars. Alhamdulillah so far we already have a few student names on the waiting list. 

2. Start working on a specific module for teenagers. Our experience with teenagers memorizing the Quran is that there is a general lack  of motivation, understanding, and, as a consequence, love of Allah's message in their hearts. Of course, with the constant bombarding of social media, television, YouTube etc, all these things, unfortunately, look much more exciting than reading and memorizing Qur'an. And at the age of 13-17, no one, not even parents, can force them the way younger children can be coerced into learning something they don't want to. Thus, this is an area that we really want to develop to help build a better generation of teenagers who are closer to the Quran, and Allah. 

In case you are wondering, for the Q Babies, Quranic Seedlings and Junior Al-Hafiz classes, we do make our own modules and lesson plans for the classes- to ensure our students not only memorize, but understand the main messages in a fun way! InshaAllah we will soon start working on a specific module for teenagers too. 

Please make du'a that Allah gives us taufiq and hidayah to create a great solution to increase the understanding and love of our teenagers to the Qur'an while they memorize. Amin